Tentang pagi, dan halaman yang mengingatkanku padamu
Dear Sandi,
Pagi ini langit terlihat lapang dan terang. Matahari naik pelan dari balik atap-atap rumah, menyisakan cahaya hangat yang jatuh di pepohonan. Udara terasa tenang, seolah pagi sedang mengajak siapa pun yang terjaga untuk bernapas lebih dalam, tanpa tergesa.
Di suasana seperti ini, aku membuka salah satu halaman buku karya Indra Sugarto. Entah kenapa, saat membacanya, pikiranku langsung tertuju padamu. Ada kalimat-kalimat di halaman itu yang terasa begitu dekat, seolah sedang berbicara tentangmu—atau mungkin, untukmu. Begini kutipannya.
“Kapan Kamu Akan Bilang Bahwa Kamu Lelah? (Part 1)
Hi, superman! Kapan kamu akan bilang bahwa kamu lelah menanggung semua beban itu di pundakmu sendirian?
Kamu hebat sekali. Menerima beban yang seharusnya bukan menjadi bebanmu. Menerima badai yang orang ciptakan kepadamu. Kamu selalu menanggung semua itu sendirian. Seperti superman.
Kamu sangat dewasa sekali. Di saat orang lain mengeluh dan merengek seperti anak kecil mengharapkan es krim, tapi kamu justru menahan baik-baik semua itu. Sejak kapan kamu jadi sekuat ini?
Pukul bantaimu itu! Aku bilang pukul! Pukul sekuat tenaga. Katakan ini sambil memukulnya, ‘Aku lelah, aku lelah, aku benar-benar lelah.’
Katakan wahai manusia kuat, kamu sudah terlalu lama diam dan lupa mengatakan bahwa kamu lelah.
Pukul lagi bantaimu itu! Katakan lagi. ‘Aku lelah, tolong buat semua ini berhenti, aku hanya ingin survive, aku hanya ingin tapi sekarang aku ingin mengatakan bahwa aku lelah.’”
“Kapan Kamu Akan Bilang Bahwa Kamu Lelah? (Part 2)
Kamu menangis bukan setelah memukul bantaimu itu? Itu karena kamu paham betul, menahan beban sebanyak itu telah memaksa dirimu jadi sekuat baja.
Terlalu lama kamu menanggung semua itu sendirian. Terlalu lama kamu membiarkan jiwamu terluka. Terlalu lama kamu tidak menyadari satu hal, bahwa hatimu berharga, bukan hanya hati mereka saja. Terlalu lama kamu menahan rasa muak melihat mereka yang begitu lemah. Tak ada yang kamu ajak berkeluh, karena kamu sedewasa itu. Tak ada yang kamu ajak bercerita tentang rasa lelahmu, karena kamu sekuat itu.”
Membaca itu semua, aku teringat banyak hal tentangmu.
Aku ingat bagaimana kamu pernah menjadi tiang untukku berdiri saat aku merasa ingin jatuh. Kamu ada di saat kecemasanku paling bising, terutama ketika berbagai konflik datang bertubi-tubi dan aku tidak tahu harus berpijak di mana. Kamu membantuku menenangkan pikiran, bahkan ketika kamu sendiri sedang lelah.
Aku juga ingat bagaimana kamu membantuku menyelesaikan tugas akhirku, di waktu kamu sendiri sedang menyusun tugas akhir. Kita sama-sama kesulitan, sama-sama sedang berjuang dengan beban masing-masing. Tapi kamu tetap meluangkan waktumu—entah dalam bentuk tenaga, entah hanya dengan mendengarkan. Kamu mendengar setiap ketakutanku, bahkan yang tidak selalu berdasar, tanpa membuatku merasa berlebihan.
Itu sebabnya pagi ini, halaman buku itu terasa begitu dekat denganmu. Dan aku ingin kamu tahu, apa yang pernah kamu lakukan, sungguh berarti.
Sekarang, kalau ada hari-hari ketika kamu merasa kosong, berat, atau seperti berjalan sendirian, aku ingin kamu tahu satu hal: kamu berarti. Kehadiranmu pernah menjadi penopang bagi orang lain—termasuk aku. Dan itu tidak pernah kecil.
Kamu tidak harus selalu kuat. Kamu tidak harus selalu menjadi penyangga. Kalau suatu hari kamu merasa lelah, kamu tidak sendirian. Ada orang yang mengingatmu, peduli padamu, dan mendoakanmu—bahkan saat kamu diam.
Pagi ini, surat ini kutulis hanya untuk itu.
By
Seseorang yang merindukanmu
Komentar
Posting Komentar