Langsung ke konten utama

Unggulan

Tentang pagi, dan halaman yang mengingatkanku padamu

 Dear Sandi, Pagi ini langit terlihat lapang dan terang. Matahari naik pelan dari balik atap-atap rumah, menyisakan cahaya hangat yang jatuh di pepohonan. Udara terasa tenang, seolah pagi sedang mengajak siapa pun yang terjaga untuk bernapas lebih dalam, tanpa tergesa. Di suasana seperti ini, aku membuka salah satu halaman buku karya Indra Sugarto. Entah kenapa, saat membacanya, pikiranku langsung tertuju padamu. Ada kalimat-kalimat di halaman itu yang terasa begitu dekat, seolah sedang berbicara tentangmu—atau mungkin, untukmu. Begini kutipannya. “Kapan Kamu Akan Bilang Bahwa Kamu Lelah? (Part 1) Hi, superman! Kapan kamu akan bilang bahwa kamu lelah menanggung semua beban itu di pundakmu sendirian? Kamu hebat sekali. Menerima beban yang seharusnya bukan menjadi bebanmu. Menerima badai yang orang ciptakan kepadamu. Kamu selalu menanggung semua itu sendirian. Seperti superman. Kamu sangat dewasa sekali. Di saat orang lain mengeluh dan merengek seperti anak kecil mengharapkan es krim...

Tentang Kesalahan

 Dari berjuta manusia, kesalahan adalah hal yang lumrah. Namun, siapa sangka jika sebenarnya manusia sangat membenci kesalahan, hanya saja sesuatu dari luar menuntutnya untuk membuat kesalahan itu. Mau tidak mau. Penyesalan, ya itu akan selalu terjadi karena seperti itulah naluri murni manusia. Manusia ingin semua berjalan baik-baik saja, tanpa gangguan, tanpa ancaman, tanpa pengaruh pengaruh luar yang mendorog untuk melakukan sesuatu yang berlabel “salah”. dan amat disayangkan semua itu hanya ilusi, hidup tanpa kesalahan adalah ilusi. Jika dipikir lebih dalam, entah apa yang membuat sesuatu terlihat seperti salah, dan aku sendiri masih tidak mengerti apakah salah dan benar termasuk pada lingkup persepsi yang keberadaannya bersifat relatif, ataukah lingkup mutlak sebagai mana fakta-fakta. Namun, menurutku semua orang sangat membenci kesalahan, kenapa? karena sebuah penyesalan amatlah menyakitkan. Penyesalan itu ibaratkan voucher gratis untuk sebuah kecewa masuk. Manusia tahu kesalahan itu akan mendatangkan kecewa, tapi suatu pertahanan yang entah dari mana datangnya dan mendapatkan keberanian yang begitu besar, berani menerima konsekuensi yang jelas merugikan itu datang menghadangnya. Seakan tidak ada cara lain yang bisa dilakukan selain mengorbankan diri dan membiarkan sebuah kecewa itu singgah.

Komentar

Postingan Populer