Langsung ke konten utama

Unggulan

Tentang pagi, dan halaman yang mengingatkanku padamu

 Dear Sandi, Pagi ini langit terlihat lapang dan terang. Matahari naik pelan dari balik atap-atap rumah, menyisakan cahaya hangat yang jatuh di pepohonan. Udara terasa tenang, seolah pagi sedang mengajak siapa pun yang terjaga untuk bernapas lebih dalam, tanpa tergesa. Di suasana seperti ini, aku membuka salah satu halaman buku karya Indra Sugarto. Entah kenapa, saat membacanya, pikiranku langsung tertuju padamu. Ada kalimat-kalimat di halaman itu yang terasa begitu dekat, seolah sedang berbicara tentangmu—atau mungkin, untukmu. Begini kutipannya. “Kapan Kamu Akan Bilang Bahwa Kamu Lelah? (Part 1) Hi, superman! Kapan kamu akan bilang bahwa kamu lelah menanggung semua beban itu di pundakmu sendirian? Kamu hebat sekali. Menerima beban yang seharusnya bukan menjadi bebanmu. Menerima badai yang orang ciptakan kepadamu. Kamu selalu menanggung semua itu sendirian. Seperti superman. Kamu sangat dewasa sekali. Di saat orang lain mengeluh dan merengek seperti anak kecil mengharapkan es krim...

Jejak Pengalaman

 

Berteman dengan Gagal

Menjadi seorang penulis bukanlah hal yang mudah, dan aku paham betul itu. Tapi agaknya bukanlah hal yang keterlaluan jika gadis biasa sepertiku bermimpi untuk menjadi seorang penulis. Terkadang aku berpikir, mungkin mimpiku hanyalah sekadar basa-basi yang terlanjur basi untuk sekadar disuarakan kembali, sebagaimana yang sering dilontarkan orang-orang di sekelilingku, mana mungkin gadis sepasif aku yang hanya menghabiskan setiap detiknya di dalam rumah, bisa menyusun huruf demi huruf menjadi sebuah narasi yang cukup layak untuk dibaca. Namun, segera kutepis pikiran itu, tidak ada yang salah dengan mimpi, hanya saja perjuangan dan pengorbanan yang diberikan terkadang tidak mampu mengimbangi mimpi yang digantungkan di langit tertinggi. Mungkin mereka menganggap aku terlalu bodoh, bahkan untuk sekadar menuliskan kalimat pembuka yang sangat jarang di baca. Ya, aku akui itu, aku memang bukanlah gadis cerdas yang mampu merangkai kata menjadi kalimat bermakna yang berirama. Bukan pula seorang punjangga yang setiap kalimatnya mampu menembus relung dalam jiwa. Aku sama sekali bukanlah mereka, dan aku cukup menyadari kontrasnya perbedaanku itu. Namun, lalu mengapa? Apa yang salah dengan kelemahan dan kekurangan yang aku miliki, aku cukup tahu bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Dan hidup hanya akan berjalan jika masalah ada. Dan aku cukup bersyukur dengan kenyataan itu. Setidaknya aku punya mimpi yang siap kugali dan kuperjuangkan.

Aku jadi teringat tentang perjalanan berharga yang kudapatkan belum lama ini, satu bulan yang lalu aku mengikuti salah satu kegiatan lomba menulis cerpen untuk pertama kalinya. Dan untuk pertama kalinya aku sadar, ternyata untuk meyakinkan diri bahwa aku bisa menulis saja tidaklah mudah, butuh tekad kuat yang benar-benar bisa mendonbrak batas-batas keyakinan akan ketidakmampuan diri. Dan lewat pengalaman itu juga, aku merasakan apa itu kegagalan yang bermakna, kegagalan positif yang mendorongku untuk terus berusaha dan mencoba. Maka, kini dengan percaya diri aku akan menyuarakan bahwa aku tidak takut jika gagal memang harus kembali menghampiri, karena seorang pembelajar sejati adalah mereka yang mampu belajar dari setiap pengalaman apapun yang didapatkannya. Dan untuk mimpiku, aku yakin akan ada satu masa dimana dunia dengan lantang menyebutku sebagai seorang penulis. Atau setidaknya aku bisa menjadi penulis inspiratif bagi diriku sendiri.

Komentar

Postingan Populer