Langsung ke konten utama

Unggulan

Tentang pagi, dan halaman yang mengingatkanku padamu

 Dear Sandi, Pagi ini langit terlihat lapang dan terang. Matahari naik pelan dari balik atap-atap rumah, menyisakan cahaya hangat yang jatuh di pepohonan. Udara terasa tenang, seolah pagi sedang mengajak siapa pun yang terjaga untuk bernapas lebih dalam, tanpa tergesa. Di suasana seperti ini, aku membuka salah satu halaman buku karya Indra Sugarto. Entah kenapa, saat membacanya, pikiranku langsung tertuju padamu. Ada kalimat-kalimat di halaman itu yang terasa begitu dekat, seolah sedang berbicara tentangmu—atau mungkin, untukmu. Begini kutipannya. “Kapan Kamu Akan Bilang Bahwa Kamu Lelah? (Part 1) Hi, superman! Kapan kamu akan bilang bahwa kamu lelah menanggung semua beban itu di pundakmu sendirian? Kamu hebat sekali. Menerima beban yang seharusnya bukan menjadi bebanmu. Menerima badai yang orang ciptakan kepadamu. Kamu selalu menanggung semua itu sendirian. Seperti superman. Kamu sangat dewasa sekali. Di saat orang lain mengeluh dan merengek seperti anak kecil mengharapkan es krim...

Eldest Daughter Syndrome: Kenapa Jadi Anak Perempuan Pertama Itu Melelahkan?

Jadi anak perempuan pertama itu ibarat hidup di “zona nanggung”. Di satu sisi, merupakan seorang perempuan yang—katanya—masih ditanggung, masih menjadi tanggung jawab orang tua. Tapi di sisi lain, status sebagai anak pertama otomatis membuatnya diposisikan mirip orang tua kedua: harus mandiri, ikut bertanggung jawab atas kebahagiaan adik-adik, bahkan jadi tempat bergantung ketika mereka butuh sesuatu.

Lucunya, banyak yang memandang anak pertama—terutama perempuan—sebagai sosok yang serba bisa, seakan-akan “kaya raya” dan selalu siap menolong. Padahal kenyataannya, dia sendiri sering bingung harus mencari ke mana. Anehnya, hal ini jarang ada yang benar-benar mengerti.

Apalagi ketika statusnya masih belum punya pekerjaan tetap. Di satu sisi, ia dituntut memenuhi kebutuhan pribadi. Di sisi lain, ada tuntutan tak tertulis untuk tetap terlihat berwibawa di depan adik-adik. Kakak itu, katanya, harus kelihatan mampu: berbagi uang, kasih upah kecil kalau nyuruh-nyuruh, seolah perannya memang “ATM berjalan”. Padahal kenyataannya, ia hanya seorang anak yang sedang berjuang, dengan penghasilan serabutan yang tidak selalu hadir setiap bulan.

Sekalinya mencoba realistis—mengatur pengeluaran, menahan diri, dan menyesuaikan gaya hidup dengan pendapatan—ia justru dicap “pelit”. Terutama oleh ibu. Seakan-akan, semua penghasilan kecil yang ia peroleh bukan untuk kebutuhannya, tapi sepenuhnya untuk dibagi. Dan ketika ia mencoba menolak, rasa bersalah langsung menghantui. Hahaha… melelahkan, ya?

Kalau aku pikir-pikir, ternyata banyak penelitian yang mendukung pengalaman ini. Dalam psikologi keluarga, ada istilah “parentification”, yaitu kondisi ketika anak mengambil peran mirip orang tua—menjadi pengasuh, penanggung jawab, bahkan penyokong finansial bagi saudara-saudaranya (Hooper et al., 2008). Efeknya, anak pertama sering mengalami beban emosional, stres, bahkan rasa bersalah ketika tidak bisa memenuhi ekspektasi.

Di Indonesia sendiri, fenomena ini makin terasa. Menurut psikolog, anak sulung perempuan sering terlihat lebih dewasa dibanding usianya karena sejak kecil sudah dibebani tanggung jawab lebih, mulai dari membantu orang tua sampai menjaga adik-adiknya (Kompas TV). Dampaknya, mereka tumbuh jadi mandiri, punya naluri mengasuh, dan sering dijadikan teladan keluarga (Kumparan).

Bahkan ada istilah khusus, yaitu “eldest daughter syndrome”, untuk menggambarkan tekanan emosional dan psikologis yang dialami anak perempuan sulung: beban rumah tangga lebih banyak, ekspektasi lebih tinggi, dan sering kali mereka jadi “penjaga keharmonisan keluarga” tanpa diminta (Detik; Kompasiana).

Kalau kita tarik lebih luas, pola ini juga dipengaruhi budaya. Dalam banyak keluarga di Indonesia yang masih kental nilai patriarki, peran pengasuhan sering jatuh pada ibu atau anak perempuan. Padahal, Kementerian PPPA sudah menekankan bahwa pengasuhan seharusnya menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya perempuan (InfoPublik). Sayangnya, stereotipe ini masih sangat kuat sehingga anak sulung perempuan kerap jadi “korban ekspektasi”.

Penelitian dari IPB tentang generasi Z juga menarik: mereka menemukan bahwa ikatan keluarga dan tradisi bisa memengaruhi kebahagiaan, dan perempuan cenderung melaporkan tingkat kebahagiaan yang lebih rendah dibanding laki-laki, terutama dalam konteks keluarga dengan tuntutan tradisi yang kuat (IPB Repository). Bukankah ini sesuai dengan kenyataan bahwa beban emosional dan sosial sering kali lebih berat di pundak perempuan pertama?

Jadi, ternyata perasaan “zona nanggung” ini bukan cuma keluhan pribadi. Ada faktor budaya, gender, sampai psikologi keluarga yang membuat posisi anak perempuan pertama memang serba tanggung: masih dianggap anak yang harus ditanggung, tapi di saat yang sama dituntut dewasa, mapan, dan selalu ada untuk keluarga.

Dan pada akhirnya, ia hanya bisa tersenyum kecut: jadi anak pertama itu memang melelahkan… tapi entah kenapa, rasa tanggung jawab itu tetap sulit dihapuskan.

Komentar

Postingan Populer