Langsung ke konten utama

Unggulan

Tentang pagi, dan halaman yang mengingatkanku padamu

 Dear Sandi, Pagi ini langit terlihat lapang dan terang. Matahari naik pelan dari balik atap-atap rumah, menyisakan cahaya hangat yang jatuh di pepohonan. Udara terasa tenang, seolah pagi sedang mengajak siapa pun yang terjaga untuk bernapas lebih dalam, tanpa tergesa. Di suasana seperti ini, aku membuka salah satu halaman buku karya Indra Sugarto. Entah kenapa, saat membacanya, pikiranku langsung tertuju padamu. Ada kalimat-kalimat di halaman itu yang terasa begitu dekat, seolah sedang berbicara tentangmu—atau mungkin, untukmu. Begini kutipannya. “Kapan Kamu Akan Bilang Bahwa Kamu Lelah? (Part 1) Hi, superman! Kapan kamu akan bilang bahwa kamu lelah menanggung semua beban itu di pundakmu sendirian? Kamu hebat sekali. Menerima beban yang seharusnya bukan menjadi bebanmu. Menerima badai yang orang ciptakan kepadamu. Kamu selalu menanggung semua itu sendirian. Seperti superman. Kamu sangat dewasa sekali. Di saat orang lain mengeluh dan merengek seperti anak kecil mengharapkan es krim...

My Daily

9 Oktober 2025
Dan rasa kosong itu… masih ada.
Ya Allah, aku benar-benar bingung harus apa. Aku kehilangan arah.
Rasa sakit ini begitu nyata, tapi aku bahkan tidak tahu dari mana asalnya. Aku merasa otakku perlahan melemah—daya pikir, daya ingat, semangat—semuanya seperti pudar satu per satu. Aku takut, Ya Rabb… takut menjadi manusia yang tidak berguna. Tolong aku.

Aku tidak tahu kenapa aku begitu malas, kenapa aku kehilangan semangat. Tolong kuatkan aku, Ya Allah. Jangan biarkan pikiranku melemah, jangan biarkan kemampuan analisa yang dulu aku miliki hilang begitu saja.

Sebentar lagi, tepat tanggal 19 Oktober, aku akan berusia 24 tahun.
Tapi aku masih di sini—terjebak dalam kebingungan yang sama.
Aku bukan remaja lagi, tapi aku juga belum punya pegangan hidup.
Aku tidak bekerja, aku tidak tahu arah.
Aku takut, Ya Allah. Takut tertinggal, takut melihat orang lain berhasil sementara aku masih diam di tempat.
Tolong bimbing aku. Tolong keluarkan aku dari kebuntuan ini.
Jangan biarkan aku menjadi hamba-Mu yang merugi.

Selama ini aku sering mengeluh—lelah dengan tuntutan orang tua, lelah dengan beban pekerjaan. Tapi kini aku sadar, mungkin memang itulah takdirku. Setiap sel dalam tubuhku memang diciptakan untuk bekerja keras, untuk berjuang, untuk berguna bagi keluargaku.
Bodohnya aku justru mengeluh atas itu semua.

Dan sekarang… ketika aku kehilangan semuanya—pekerjaan, rutinitas, tanggung jawab, bahkan harapan orang tuaku—baru aku menyadari betapa kosongnya hidup tanpa semua itu. Betapa kecil dan tidak bergunanya aku rasanya.

Ya Rabb, Engkau Maha Tahu apa yang aku butuhkan.
Aku mohon, tolonglah aku.
Kepada siapa lagi aku bisa meminta selain kepada-Mu?
Engkaulah yang menggenggam takdir, Engkau yang Maha Berkuasa atas segalanya.
Aku sadar, aku sangat lemah tanpa pertolongan-Mu.
Tolong bantu aku, Ya Allah.
Bahkan untuk menulis lamaran pekerjaan pun aku merasa tidak sanggup.
Aku menyerah, tapi aku tetap berharap pada-Mu.

Komentar

Postingan Populer