Langsung ke konten utama

Unggulan

Tentang pagi, dan halaman yang mengingatkanku padamu

 Dear Sandi, Pagi ini langit terlihat lapang dan terang. Matahari naik pelan dari balik atap-atap rumah, menyisakan cahaya hangat yang jatuh di pepohonan. Udara terasa tenang, seolah pagi sedang mengajak siapa pun yang terjaga untuk bernapas lebih dalam, tanpa tergesa. Di suasana seperti ini, aku membuka salah satu halaman buku karya Indra Sugarto. Entah kenapa, saat membacanya, pikiranku langsung tertuju padamu. Ada kalimat-kalimat di halaman itu yang terasa begitu dekat, seolah sedang berbicara tentangmu—atau mungkin, untukmu. Begini kutipannya. “Kapan Kamu Akan Bilang Bahwa Kamu Lelah? (Part 1) Hi, superman! Kapan kamu akan bilang bahwa kamu lelah menanggung semua beban itu di pundakmu sendirian? Kamu hebat sekali. Menerima beban yang seharusnya bukan menjadi bebanmu. Menerima badai yang orang ciptakan kepadamu. Kamu selalu menanggung semua itu sendirian. Seperti superman. Kamu sangat dewasa sekali. Di saat orang lain mengeluh dan merengek seperti anak kecil mengharapkan es krim...

My Diary: Tentangmu Part 2

 

Ada lagi satu bagian dari kenangan itu yang tiba-tiba muncul ketika aku menulis ini. Kecil, sederhana, tapi entah kenapa terasa begitu berarti. Saat itu aku pernah meminjam bukunya — buku catatan prakarya miliknya. Lucu, ya. Hanya sebuah buku, hanya sebuah peminjaman biasa. Tapi aku masih ingat rasanya… seolah aku sedang memegang sepotong kecil dari dunia yang ia jaga rapat-rapat.

Dulu, aku selalu merasa bahwa Sena adalah seseorang yang membangun pagar di sekeliling dirinya. Tidak tinggi, tapi cukup kokoh untuk membuat orang lain ragu untuk mendekat. Dia bukan tipe yang ramai, bukan yang punya banyak teman dekat, dan bukan pula yang mudah bercerita. Seolah ada jarak yang sengaja ia buat, seperti ia hidup di ruangnya sendiri — tenang, sepi, mungkin juga rapuh dalam cara yang tidak pernah bisa kulihat.

Tapi denganku… aku merasa ada celah kecil terbuka. Aku tidak tahu apakah itu benar atau hanya persepsiku yang terlalu berharap. Tapi ada momen-momen kecil yang membuatku percaya bahwa aku pernah benar-benar diterima di ruang itu.

Aku masih ingat ketika dia berkata, dengan nada biasa saja, tanpa maksud menunjukkan sesuatu, bahwa ia tidak pernah dekat dengan siapapun… kecuali kelompok belajar yang ia bentuk sendiri — dan di dalamnya ada aku.

Waktu dia membuat grup WhatsApp itu… Mission Secret. Tuhan… bahkan sampai sekarang namanya saja membuatku tersenyum.

Empat orang. Hanya itu.
Aku.
Mariam — teman sebangkuku.
Wildan — temanku.
Dan Upo — temannya Wildan.
Dan tentunya… dia.

Rasanya seperti kelompok kecil yang hanya kami yang tahu cara hidupnya. Tidak heboh. Tidak spesial dari luar. Tapi hangat dengan caranya sendiri. Seolah dunia sekolah yang kadang melelahkan itu punya sudut kecil yang aman, dan di sudut itu, ada kami.

Dan aku ingat satu kejadian yang begitu sederhana tapi entah kenapa terasa seperti adegan favorit dalam hidupku. Saat aku lupa menaruh handphone-ku. Aku panik. Aku mencari. Aku hampir ingin menyerah. Dan di tengah kepanikan itu — Mariam, dengan wajah datarnya, ternyata menyembunyikannya di meja guru, sebagai candaan entah apa.

Dan Sena, tanpa ragu dan tanpa nada berlebihan, hanya berkata dengan tenang,

“Kalau mau, aku misscall.”

Sederhana.
Tapi dunia yang ada di dadaku saat itu: berdebar, hangat, penuh — meski aku pura-pura biasa saja.

Itu pertama kalinya kami bertukar nomor.

Aku ingat kata-kataku, masih sangat jelas:

"Save nomor WA ku ya."

Dan dia mengangguk pelan, seperti biasa — seperti semuanya begitu wajar bagi dirinya. Tapi untukku, itu adalah salah satu hari paling berharga dalam hidupku. Hari ketika jarak yang kubayangkan antara kami — bukan hilang, tapi mengecil. Sedikit saja. Cukup untuk membuatku merasa… dekat.

Aku tidak tahu apakah semua ini hanya kenangan yang kubuat terlalu indah. Mungkin aku hanya sedang meromantisasi masa lalu. Mungkin semua ini hanyalah aku yang masih menggenggam sesuatu yang seharusnya sudah kulepaskan.

Tapi kenyataannya, tidak semua yang indah harus dimiliki.

Kadang, cukup dikenang.
Cukup disimpan dengan lembut.
Cukup diizinkan untuk tetap hidup — meski hanya dalam bentuk cerita.

Dan satu hal yang selalu membuatku tersenyum adalah ini:
Aku pernah menjadi bagian dari dunianya — meski hanya sebentar.
Dan aku pernah merasakan dunia menjadi tempat yang ringan, hangat, dan penuh keajaiban — karena kehadirannya.

Mungkin itu sudah cukup.
Mungkin itu memang tak pernah dimaksudkan untuk bertahan.
Tapi tetap… aku bersyukur.

Untuk buku prakarya.
Untuk grup Mission Secret.
Untuk tawaran “mau aku misscall?”.
Untuk nomor yang ia simpan.
Untuk semua tawa yang hanya kami yang tahu.
Untuk kesempatan kecil untuk masuk ke dunia yang ia jaga.

Dan untuk kenyataan bahwa meskipun akhirnya aku terbangun sendirian,
aku pernah mengenal dia.

Dan itu… pernah membuat hidupku begitu indah.

Komentar

Postingan Populer