Langsung ke konten utama

Unggulan

Tentang pagi, dan halaman yang mengingatkanku padamu

 Dear Sandi, Pagi ini langit terlihat lapang dan terang. Matahari naik pelan dari balik atap-atap rumah, menyisakan cahaya hangat yang jatuh di pepohonan. Udara terasa tenang, seolah pagi sedang mengajak siapa pun yang terjaga untuk bernapas lebih dalam, tanpa tergesa. Di suasana seperti ini, aku membuka salah satu halaman buku karya Indra Sugarto. Entah kenapa, saat membacanya, pikiranku langsung tertuju padamu. Ada kalimat-kalimat di halaman itu yang terasa begitu dekat, seolah sedang berbicara tentangmu—atau mungkin, untukmu. Begini kutipannya. “Kapan Kamu Akan Bilang Bahwa Kamu Lelah? (Part 1) Hi, superman! Kapan kamu akan bilang bahwa kamu lelah menanggung semua beban itu di pundakmu sendirian? Kamu hebat sekali. Menerima beban yang seharusnya bukan menjadi bebanmu. Menerima badai yang orang ciptakan kepadamu. Kamu selalu menanggung semua itu sendirian. Seperti superman. Kamu sangat dewasa sekali. Di saat orang lain mengeluh dan merengek seperti anak kecil mengharapkan es krim...

My Diary: Tentangmu Part 4

 

Dan sekarang, semakin aku menulis, semakin banyak kenangan yang muncul. Seolah pintu yang selama ini terkunci rapat, tiba-tiba terbuka perlahan, dan semua yang pernah kusimpan rapi berjatuhan satu per satu.

Aku ingat—dulu dia pernah merekomendasikan sebuah buku kepadaku: Seni Bersikap Bodo Amat.
Waktu itu aku hanya membacanya setengah, mungkin hanya sekedar mengikuti saran seseorang yang aku kagumi. Aku belum mengerti intinya, aku belum paham kedalaman maknanya. SMA terlalu muda untuk memahami bahwa hidup itu luas, dan luka datang dengan caranya masing-masing.

Tapi anehnya, sekarang—di usiaku yang dipenuhi keputusasaan dan kegelisahan yang sulit dijelaskan—buku itu kembali menyelamatkanku. Seolah Tuhan menyimpan pesan itu untuk saat yang tepat. Seolah apa yang Sena berikan dulu… bukan untuk dimengerti saat itu, tapi untuk saat aku paling membutuhkan.

Dan aku tidak ingin menyebutnya malaikat.
Tidak juga ingin menaruhnya pada pedestal yang terlalu tinggi.
Aku tahu, dia tidak sempurna. Ada banyak hal menyebalkan darinya. Kadang dia terlalu dingin, terlalu memisahkan dirinya, terlalu tenang sampai aku tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Kadang ia seperti tembok yang begitu sulit ditembus.

Tapi lucunya, saat ini… aku hanya mengingat bagian-bagian yang membuatku tersenyum.

Seolah ingatan memiliki caranya sendiri untuk memilih keindahan,
meski dulu ada luka,
ada penolakan,
ada ruang yang tidak pernah berhasil aku isi.

Dan aku ingat satu lagi.

Suatu hari, aku melihatnya duduk sendirian di pojok kelas. Kepalanya tertunduk. Aku kira dia sedang tidur. Tapi ketika aku mendekat, aku melihat buku yang terbuka di pangkuannya:

La Tahzan — Innallaha Ma’ana.
"Jangan bersedih — Allah bersama kita."

Saat itu aku bahkan tidak benar-benar memahami kalimat sederhana itu. Aku hanya tahu buku itu terasa “berat”, dan aku merasa kagum melihatnya membaca sesuatu yang begitu sunyi, begitu dalam. Aku meminjam buku itu darinya. Dia mengizinkannya, tanpa banyak bicara, tanpa tatapan yang berlebihan.

Aku meminjamnya tiga hari. Dan aku… tidak pernah benar-benar membacanya. Bukan karena aku tidak mau. Tapi karena aku belum siap. Aku belum cukup dewasa untuk memahami beban kata-kata yang ada di dalamnya.

Tapi sekarang… di usia yang telah digores waktu, kalimat itu terasa seperti pelukan:

Innallaha ma’ana.
Allah bersama kita.
Bersamaku.
Bersamanya.
Saat itu.
Dan sekarang.

Kalau dipikir-pikir… tidak ada yang kebetulan.

Dia bukan hanya seseorang yang membuatku tersenyum.
Dia bukan hanya seseorang yang membuatku menunggu hari esok.
Dia bukan hanya seseorang yang membuatku ingin menjadi lebih baik.

Dia adalah seseorang yang menghubungkanku kembali kepada diriku sendiri.
Dan kepada Tuhan.

Tanpa ia sadari.
Tanpa ia maksudkan.
Tanpa ia tahu.

Bersamanya aku merasakan sesuatu yang hampir tidak pernah aku rasakan lagi dalam hubungan dengan siapapun setelahnya:

Ketenangan.

Bukan cinta yang meledak-ledak.
Bukan romansa yang memabukkan.
Bukan rasa ingin memiliki.

Tapi ketenangan yang sunyi.
Yang lembut.
Yang muncul ketika kita menemukan seseorang yang bisa memahami bahasa batin kita, tanpa harus berusaha menjelaskannya.

Dia adalah satu-satunya orang yang membuatku puas dengan setiap jawaban dari setiap pertanyaanku.
Satu-satunya yang mampu menyentuh lapisan terdalam dari diriku… tanpa pernah menyentuhku sama sekali.

Dan mungkin itu sebabnya… kenangan tentangnya begitu sulit hilang.

Karena cinta yang paling dalam bukan yang paling keras.
Bukan yang paling ramai.
Bukan yang paling manis.

Tapi yang paling diam.

Yang meninggalkan jejak seperti embun.

Yang tidak terasa saat itu…
Tapi menghidupi kita bertahun-tahun kemudian.

Komentar

Postingan Populer