Cari Blog Ini
Catatan seorang pejalan yang belajar memasrahkan segala cerita hidup pada Sang Pemilik Waktu. Tentang hujan, rindu, kegagalan, dan syukur yang berujung pada ketenangan
Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Apa yang Kita Posting, Itulah Nilai Kita
Banyak orang bertanya—dan diam-diam mengiyakan—bahwa seseorang yang sering memposting sesuatu di media sosial sebenarnya sedang mencari pengakuan. Aku cenderung setuju, meskipun dengan beberapa catatan.
Pertanyaannya: adakah orang yang benar-benar memposting sesuatu yang bersifat personal—entah itu pencapaian, wajah, kemewahan, rutinitas hidup yang tampak menyenangkan, bahkan kesedihan—tanpa sedikit pun keinginan untuk diakui atau divalidasi? Dalam bentuk apa pun. Rasanya hampir mustahil. Bahkan ketika seseorang berkata, “Aku posting bukan buat siapa-siapa,” tetap ada audiens imajiner di sana. Ada kesadaran bahwa sesuatu itu dilihat.
Aku juga pernah mendengar pandangan bahwa apa yang sering kita posting mencerminkan nilai yang kita anut. Bahkan, sebagian orang mengaitkannya dengan narsisisme. Dan lagi-lagi, aku merasa ada benarnya. Seseorang akan cenderung memposting hal-hal yang menurutnya keren, bermakna, atau layak ditunjukkan. Secara tidak langsung, ia sedang berkata: inilah aku—dengan segala pencapaian, kelebihan, dan bahkan penderitaan yang berhasil ia lewati.
Kalimat tak terucapnya mungkin berbunyi seperti ini: Lihatlah hidupku. Lihat betapa menariknya aku. Lihat betapa kerasnya aku berjuang. Apakah itu salah? Tidak. Semua orang berhak mengekspresikan dirinya. Aku pun sering melakukannya, dan menurutku itu sah-sah saja.
Namun, yang ingin aku tekankan adalah satu hal: setiap kali kita memposting sesuatu, kita sedang membuka sebagian privasi kita—diri kita, nilai kita, bahkan rasa tidak percaya diri kita. Media sosial bukan ruang hampa. Ia adalah etalase.
Orang yang benar-benar sukses tidak membutuhkan pengakuan bahwa ia sukses. Keberhasilannya sudah cukup mendeskripsikan dirinya. Orang yang benar-benar kaya mungkin tidak merasa perlu memamerkan rumah mewah atau gaya hidupnya, karena baginya itu hal biasa—tidak lagi istimewa. Ingat: seseorang hanya akan memposting sesuatu yang ia anggap keren.
Begitu juga dengan kepercayaan diri. Orang yang sungguh percaya diri tidak perlu terus-menerus memposting kutipan tentang mencintai diri sendiri, tentang betapa kuat dan hebatnya ia bertahan. Kalimat seperti, “Terima kasih wahai diri karena sudah berjuang sampai titik ini,” sering kali justru menandakan kebutuhan untuk diyakinkan—oleh diri sendiri, atau oleh orang lain.
Seseorang yang menetapkan nilai dirinya terutama pada standar fisik akan cenderung sering memposting wajah atau tubuhnya. Bukan karena itu salah, tetapi karena di sanalah ia meletakkan harga dirinya. Demikian pula, orang yang sering memposting kebersamaan bisa jadi justru sedang merasa paling kesepian—karena kebersamaan itu perlu disaksikan agar terasa nyata.
Intinya, seseorang akan memposting apa yang ia anggap sebagai pencapaian atau identitas tertingginya saat itu. Dari sana, sebenarnya kita bisa membaca standar nilai yang ia gunakan untuk menilai dirinya sendiri.
Aku teringat pengalamanku sendiri saat masih menjadi mahasiswa awal. Dalam mata kuliah praktikum Fisiologi Hewan, kami mempelajari perkembangan dan reproduksi menggunakan hewan uji mencit—mulai dari mengenali fase estrus, proses perkawinan, tanda-tanda kehamilan, hingga mengamati perkembangan janin setiap minggu melalui pembedahan.
Saat itu, aku merasa apa yang kulakukan sangat keren. Aku bangga dengan jurusanku dan ingin menunjukkan kepada banyak orang betapa ‘hebatnya’ bidang yang kupelajari. Aku berniat memposting dokumentasi kegiatan tersebut ke media sosial—padahal dokumentasi itu sejatinya dibuat untuk laporan praktikum. Sekarang aku bisa mengakui dengan jujur: saat itu tujuanku memang pamer.
Dosenku melihatnya dan langsung menegur. Ia berkata kurang lebih, “Kamu sadar tidak, apa yang kamu lakukan itu bukan membuatmu terlihat keren, tapi justru norak? Ada etika sains. Dan apa yang kamu lakukan menunjukkan kamu masih amatir, karena etika dasar saja kamu belum pahami.”
Saat itu aku malu luar biasa. Awalnya kesal, tapi setelah kupikirkan kembali, ia benar. Seorang ahli tidak membutuhkan pengakuan bahwa ia ahli. Justru keheningan, ketepatan sikap, dan etika-lah yang menunjukkan profesionalisme.
Belum lama ini, aku kembali diingatkan akan hal itu ketika melihat unggahan seorang teman yang bekerja sebagai perawat. Ia memposting kegiatan mengganti popok bayi baru lahir—tanpa sensor, tanpa perlindungan privasi. Aku tertegun. Apakah orang tua bayi itu tahu bahwa anaknya dijadikan konten? Dijadikan objek pamer demi secuil validasi?
Yang membuatku lebih bingung adalah kenyataan bahwa ia bukan mahasiswa. Ia sudah lulus, sudah bergelar, sudah menjadi tenaga profesional. Namun unggahan itu justru menunjukkan ketidaksadaran akan etika praktik. Bukan terlihat keren, melainkan merendahkan dirinya sendiri tanpa ia sadari.
Dari semua itu, aku sampai pada satu kesimpulan sederhana: tidak semua hal yang bisa dibagikan memang layak dibagikan. Ada batas antara ekspresi diri dan kehilangan martabat. Ada perbedaan antara berbagi dan mempertontonkan.
Media sosial tidak salah. Yang perlu terus kita tanyakan adalah: mengapa kita memposting ini? Nilai apa yang sedang ingin kita tunjukkan? Dan apakah yang kita bagikan selaras dengan posisi, tanggung jawab, dan etika yang kita emban hari ini?
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
Surat Doa: Ya Allah, Jangan Biarkan Aku Hilang Arah
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar