Langsung ke konten utama

Unggulan

Tentang pagi, dan halaman yang mengingatkanku padamu

 Dear Sandi, Pagi ini langit terlihat lapang dan terang. Matahari naik pelan dari balik atap-atap rumah, menyisakan cahaya hangat yang jatuh di pepohonan. Udara terasa tenang, seolah pagi sedang mengajak siapa pun yang terjaga untuk bernapas lebih dalam, tanpa tergesa. Di suasana seperti ini, aku membuka salah satu halaman buku karya Indra Sugarto. Entah kenapa, saat membacanya, pikiranku langsung tertuju padamu. Ada kalimat-kalimat di halaman itu yang terasa begitu dekat, seolah sedang berbicara tentangmu—atau mungkin, untukmu. Begini kutipannya. “Kapan Kamu Akan Bilang Bahwa Kamu Lelah? (Part 1) Hi, superman! Kapan kamu akan bilang bahwa kamu lelah menanggung semua beban itu di pundakmu sendirian? Kamu hebat sekali. Menerima beban yang seharusnya bukan menjadi bebanmu. Menerima badai yang orang ciptakan kepadamu. Kamu selalu menanggung semua itu sendirian. Seperti superman. Kamu sangat dewasa sekali. Di saat orang lain mengeluh dan merengek seperti anak kecil mengharapkan es krim...

Kematian yang Dirindukan

Aku menulis ini dalam keadaan setengah sadar. 

Mataku perih, kepalaku berat, dan rasanya dunia terlalu bising untuk orang sepertiku. 

Menulis adalah satu-satunya cara agar aku tidak meledak malam ini.

Akhir-akhir ini, hidup terasa seperti kewajiban yang dipaksakan.

Aku bangun, menjalani hari, lalu kembali tidur tanpa benar-benar merasa hadir.

Seperti bayangan yang lupa bagaimana caranya menjadi manusia.

Pikiran tentang mati sering datang tanpa diundang.

Bukan sebagai ancaman, tapi sebagai pelarian.

Sebagai jeda dari rasa sesak yang tidak pernah benar-benar pergi.

Aku pernah mencoba mengakhirinya. Beberapa kali. Dan setiap kali itu juga, aku gagal.

Ada momen di mana aku sudah sangat dekat dengan keputusan itu. Namun tubuhku mendadak melawan.

Napas tercekat. Jantung berdebar terlalu kencang. Dan tanganku, entah kenapa, justru menarik diri.

Aku tidak tahu bagian mana dari diriku yang masih bertahan. Yang jelas, ia tidak membawa harapan, tidak juga membawa alasan mulia. Ia hanya berkata: tunggu sebentar lagi.

Dan “sebentar lagi” itu berubah menjadi hari. Hari menjadi minggu. Aku tetap hidup, sambil membawa rasa kecewa pada diriku sendiri. 

Kegagalan itu tidak membuatku bersyukur. Justru sebaliknya, aku merasa semakin kosong, seakan bahkan untuk pergi pun aku tidak cukup berani.

Aku melihat orang-orang berlomba mengejar mimpi, sementara aku hanya ingin tidur tanpa harus bangun lagi.

Aku lelah berpura-pura baik-baik saja.

Lelah menjelaskan hal-hal yang bahkan aku sendiri tidak mengerti.

Kematian bagiku bukan sesuatu yang menakutkan. Ia tenang. Sunyi. Dan terdengar jauh lebih ramah dibanding dunia yang terus menuntutku kuat.

Namun sampai hari ini, aku masih di sini. Masih bernapas. Masih menulis.

Mungkin karena aku belum sepenuhnya ingin pergi. Atau mungkin karena aku terlalu terbiasa menahan rasa sakit.

Aku tidak tahu bagaimana akhir ceritaku nanti. Yang aku tahu, aku merindukan kematian dengan cara yang pelan dan diam, sementara hidup terus menahanku untuk tetap tinggal, entah sampai kapan.

Komentar

Postingan Populer