Langsung ke konten utama

Unggulan

Tentang pagi, dan halaman yang mengingatkanku padamu

 Dear Sandi, Pagi ini langit terlihat lapang dan terang. Matahari naik pelan dari balik atap-atap rumah, menyisakan cahaya hangat yang jatuh di pepohonan. Udara terasa tenang, seolah pagi sedang mengajak siapa pun yang terjaga untuk bernapas lebih dalam, tanpa tergesa. Di suasana seperti ini, aku membuka salah satu halaman buku karya Indra Sugarto. Entah kenapa, saat membacanya, pikiranku langsung tertuju padamu. Ada kalimat-kalimat di halaman itu yang terasa begitu dekat, seolah sedang berbicara tentangmu—atau mungkin, untukmu. Begini kutipannya. “Kapan Kamu Akan Bilang Bahwa Kamu Lelah? (Part 1) Hi, superman! Kapan kamu akan bilang bahwa kamu lelah menanggung semua beban itu di pundakmu sendirian? Kamu hebat sekali. Menerima beban yang seharusnya bukan menjadi bebanmu. Menerima badai yang orang ciptakan kepadamu. Kamu selalu menanggung semua itu sendirian. Seperti superman. Kamu sangat dewasa sekali. Di saat orang lain mengeluh dan merengek seperti anak kecil mengharapkan es krim...

Untukmu yang Berselimut Luka

Bagaimana mungkin aku memulihkanmu, sementara aku sendiri kesulitan memulihkan diriku?

Pertanyaan itu sering muncul tanpa aku sengaja. Datang begitu saja, biasanya saat aku sedang diam, atau saat mendengar kabarmu dari orang lain. Aku tidak pernah benar-benar mencari jawabannya, karena aku tahu jawabannya tidak akan sederhana.

Nyatanya aku dan kamu tidak jauh berbeda. Kita sama-sama punya luka. Sama-sama lelah. Sama-sama pernah sampai di titik ingin menghilang dari dunia—bukan karena ingin mati, tapi karena hidup terasa terlalu berat untuk terus dijalani dengan cara yang sama.

Tapi cara kita menanggungnya berbeda.

Kamu memilih menjauh. Menutup diri. Menghilang dari dunia luar. Kamu mendorong orang-orang di sekitarmu, entah dengan diam, entah dengan penolakan halus. Tapi anehnya, mereka tetap bertahan. Tetap peduli. Tetap mencari tahu kabarmu. Bahkan ketika kamu tidak membuka pintu, mereka masih berdiri di depan pintu kamarmu, menunggu.

Sedangkan aku, melakukan sebaliknya. Aku berusaha terlihat baik-baik saja. Aku mencoba ramah, ceria, seolah tidak ada yang salah. Aku mendekat, berharap ada yang mau tinggal. Tapi semakin aku berusaha terlihat “normal”, semakin tidak ada yang benar-benar melihatku. Pada akhirnya aku tetap sendirian, hanya dengan pikiranku sendiri.

Beberapa waktu lalu, temanmu menghubungiku. Katanya ia bertemu denganmu. Dari ceritanya, aku tahu kamu sedang benar-benar jatuh. Tidak keluar rumah. Mengurung diri. Dan dari foto yang ia kirim, tatapan matamu yang kosong jelas menunjukkan betapa lelahnya kamu, kekosongan karena terlalu lama menahan semuanya sendiri.

Aku tahu rasanya berada di titik itu. Titik ketika bangun tidur pun terasa berat, ketika dunia berjalan tapi kita tertinggal jauh di belakang. Tatapan kosong itu bukan tanda menyerah, tapi tanda orang yang sudah kehabisan tenaga untuk berpura-pura baik-baik saja.

Lewat temanmu itu juga, aku mendengar sesuatu yang lain.

Ibumu menanyakan tentang hubungan kita, karena sudah lama aku tidak main ke rumahmu. Katanya, barangkali aku bisa bercerita pada padanya. Seolah aku masih punya jawaban. Seolah aku masih bagian dari hidupmu yang bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi padamu.

Sebenarnya aku tidak kaget. Aku sudah menduganya. Wajar jika seorang ibu bertanya, apalagi melihat anaknya berubah begitu jauh. Terlebih saat kita masih menjalin hubungan dulu, ketika kamu sudah sering tenggelam dalam duniamu sendiri, dan aku masih mencoba bertahan di sampingmu.

Bahkan, ibumu pernah menghubungiku langsung. Bukan sekali, tapi dua kali. Ia menanyakan kenapa aku sudah lama tidak datang ke rumah, dan mengatakan bahwa kamu sedang di rumah, tidak di Bandung.

Saat itu aku bingung harus menjawab apa, aku takut ibumu berpikir bahwa aku meninggalkanmu, bahwa aku membuangmu di saat saat kamu sedang terpuruk, padahal kamu juga tahu aku tidak pernah benar-benar menginginkan perpisahan itu. 

Namun aku akui, saat itu aku terlalu banyak menuntut. Aku tidak benar-benar mencoba memahamimu. Aku egois. Aku memaksamu untuk membalas pesanku, memaksamu memahami diriku beserta semua luka yang kubawa, tanpa memberi ruang pada kenyataan bahwa kamu juga sedang terluka dan kesulitan.

Aku menyesal. Dan sampai sekarang, aku masih belum tahu bagaimana cara menebus penyesalan itu. Kamu sudah benar-benar mendorongku keluar dari hidupmu, menutup rapat pintu hatimu—ruang yang dulu begitu privat dan hanya sedikit orang yang boleh masuk.

Karena itu, "malu" menjadi alibi ku untuk menjawab semua pertanyaan ibumu itu.

Jawaban itu tidak sepenuhnya salah. Aku memang malu, malu pada diriku sendiri, malu pada keluargamu. Meskipun di sisi lain, aku juga belum siap bertemu denganmu. Aku belum siap melihatmu dan berpura-pura bahwa aku baik-baik saja, sementara aku sendiri sedang berantakan.

Saat membaca pesan yang diteruskan temanmu dari ibumu itu, pikiranku bukan tertuju pada hubungan kita. Melainkan pada seorang ibu yang sedang kebingungan, berusaha mencari alasan mengapa anaknya berubah menjadi begitu diam, begitu jauh. Dan entah kenapa, yang justru muncul di kepalaku adalah ketakutan yang lebih gelap: bahwa ibumu mungkin menyalahkanku atas keadaanmu.

Padahal dia tidak tahu—dan mungkin tidak akan pernah tahu—bahwa aku sendiri juga serapuh itu.

Setiap hari aku bangun dengan kelelahan yang sama. Pikiran untuk mengakhiri hidup itu terus ada, meski tidak selalu ingin kulakukan. Aku hanya lelah. Sama sepertimu, aku jarang keluar rumah. Tidak punya tempat bercerita. Bingung harus melakukan apa dari satu jam ke jam berikutnya. Aku sering merasa tertinggal, merasa tidak berguna, terutama ketika melihat orang-orang di sekitarku melangkah maju dengan mudah. Sedangkan aku hanya menjadi penonton bisu. Terjebak dalam penjara tanpa jeruji, tanpa kunci, tapi juga tanpa keberanian untuk keluar.

Aku tahu, luka tidak bisa dibandingkan. Tidak ada luka yang lebih pantas disorot, tidak ada penderitaan yang lebih “berhak” diperhatikan. Rasa sakit tidak punya ukuran yang adil. Tapi sebagai manusia, aku tetap merasa—dan di situlah aku mulai iri.

Aku iri padamu, dan aku tidak menyangkal itu.

Aku iri karena ketika kamu jatuh, ada orang-orang yang menyadarinya. Ada teman-teman yang datang. Ada ibu yang khawatir. Ada lingkaran yang tetap memelukmu, meskipun kamu menolak. Sedangkan aku, jatuh dalam diam. Bertahan dalam sepi. Tidak dianggap cukup hancur untuk dicari.

Tapi di saat yang sama, aku juga kasihan.

Aku kasihan karena aku tahu, dikelilingi orang pun tidak menjamin seseorang merasa ditemani. Aku kasihan karena aku tahu, tatapan kosong itu bukan soal kurangnya perhatian, tapi soal pertempuran panjang di dalam kepala. Aku kasihan karena kamu harus menanggungnya dengan caramu sendiri, dengan luka yang juga tidak pernah kamu minta.

Aku iri dan kasihan pada waktu yang bersamaan. Dua perasaan yang saling bertabrakan, tapi sama-sama jujur.

Bedanya denganmu, aku memilih menutupi semuanya. Aku mengunggah hal-hal yang membuatku terlihat baik-baik saja di media sosial. Seolah aku sibuk. Seolah aku punya hidup. Aku melakukannya agar orang lain tidak mengabaikanku, dan mungkin juga agar aku sendiri bisa percaya bahwa aku baik baik saja, bahwa aku tidak sepenuhnya kosong.

Aku mencoba ceria. Mencoba ramah. Berharap ada yang mau mendekat. Atau setidaknya, ada satu orang saja yang akan bertanya kabarku ketika aku menghilang.

Tapi tetap saja tidak ada.

Dan di situlah aku sadar: bukan karena lukaku lebih kecil, bukan karena lukamu lebih besar. Luka kita tidak untuk dibandingkan. Kita hanya berada di posisi yang berbeda—kamu terlihat jatuh, aku terlihat bertahan. Padahal di dalamnya, sama-sama hancur.

Jika suatu hari kamu pulih, aku yakin orang-orang di sekitarmu akan menyambutmu kembali dengan tangan terbuka. Dan aku sungguh berharap itu terjadi. Aku sangat menantikan itu. Karena itu, aku harap kamu tetap bertahan,  bangkit, dan kembali membuktikan bahwa keputusanmu memang tepat.


For S, I trust you 

Komentar

Postingan Populer